Mengapa Kami Membangun Masjid di Legok Kalongan Tanjung Muntilan Magelang
Mengapa Kami Membangun Masjid di Legok Kalongan?
Saya sering mendapatkan pertanyaan, mengapa memilih membangun masjid di Legok Kalongan, Tanjung, Muntilan? Bukankah tempat itu jauh dari keramaian dan berada di pinggir sungai? Mengapa harus bersusah payah membangun masjid di lokasi yang penuh tantangan?
Jawaban saya sederhana, karena ini adalah pilihan Allah.
Semua bermula dari sebidang tanah seluas kurang lebih 450 meter persegi yang berada di tepi sungai dan jalan antar desa menghubungkan ke kota. Tanah itu berada di bagian yang lebih rendah sehingga hampir setiap musim hujan sering terkena banjir. Sedikit demi sedikit tanahnya tergerus aliran air. Yang tersisa adalah endapan batu-batu besar yang telah lama terbentuk. Dahulu kawasan ini merupakan bagian dari jalur aliran lahar Gunung Merapi pada masa yang sangat lampau. Karena banyaknya sumber air, para pendahulu memanfaatkan tempat ini sebagai sawah kecil dan kolam. Airnya melimpah, tanahnya subur, tetapi membutuhkan penggarapan yang sungguh-sungguh.
Seiring berjalannya waktu, lahan itu semakin kurang terawat. Banyak bagian yang mulai rusak, tertutup semak, dan perlahan kehilangan fungsinya. Atas izin Allah, kami mulai merawat tempat itu. Bukan karena kami memiliki kemampuan yang besar, tetapi karena kami melihat bahwa tanah ini masih memiliki harapan. Hingga akhirnya pemilik tanah dengan keikhlasan hatinya mewakafkan lahan tersebut.
Bagi kami, wakaf itu bukan hanya penyerahan tanah. Wakaf itu adalah amanah.
Yang membuat tempat ini semakin istimewa adalah sejarah yang melekat di dalamnya. Dulu kawasan ini merupakan jalur yang sunyi dan dipenuhi semak belukar. Orang-orang tua di sekitar tempat ini menceritakan bahwa jalur tersebut pernah menjadi jalan gerilya pada masa perjuangan. Jalur ini digunakan sebagai jalan tikus oleh para utusan dan pengintai yang bergerak di masa perjuangan Jenderal Sudirman maupun pada masa perlawanan Pangeran Diponegoro. Dari tempat inilah para pejuang bergerak mengamati kekuatan Belanda yang berada di wilayah utara, terutama di sekitar Muntilan. Meskipun sekarang jalur itu tidak lagi dapat dilalui seperti dahulu, jejak sejarahnya masih terasa.
Tempat yang dahulu menjadi jalur perjuangan, kini kami berharap menjadi jalur ibadah.
Namun ada kenyataan lain yang juga tidak bisa kami lupakan. Sebelum dirawat, kawasan ini pernah menjadi tempat yang kurang baik. Karena letaknya yang sepi, dahulu sering digunakan untuk kegiatan perjudian. Orang-orang mengenalnya dengan permainan dadu atau dalam istilah Jawa disebut kliwik. Tempat yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru pernah menjadi tempat kemaksiatan.
Karena itulah kami memiliki tekad yang kuat. Kami tidak ingin tanah ini kembali menjadi tempat yang gelap. Kami ingin mengubahnya menjadi tempat yang penuh cahaya. Kami ingin di atas tanah ini berdiri sebuah masjid yang menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi umat.
Masjid yang kami bangun bukan hanya untuk salat berjamaah. Kami berharap di tempat ini akan tumbuh kegiatan mengaji anak-anak, pembinaan remaja, kajian keislaman, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengelolaan lahan produktif, perikanan, pertanian, dan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi warga sekitar. Dengan sumber air yang melimpah dan suasana alam pedesaan yang sejuk, kami percaya tempat ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kemaslahatan.
Kami menyadari bahwa membangun masjid di tempat seperti ini bukan pekerjaan yang mudah. Medannya tidak ringan, kebutuhan pembangunannya besar, dan kemampuan kami sangat terbatas. Jika hanya mengandalkan kekuatan kami sendiri, mungkin masjid ini akan sulit terwujud.
Karena itu kami mengajak Bapak, Ibu, Saudara, dan sahabat semua untuk menjadi bagian dari perjuangan ini.
Percayalah, setiap batu yang diletakkan, setiap semen yang dicampurkan, setiap tiang yang ditegakkan, dan setiap rupiah yang disedekahkan akan menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir. Selama di masjid ini ada orang yang salat, ada anak yang belajar Al-Qur’an, ada orang yang berzikir, ada ilmu yang diajarkan, dan ada masyarakat yang merasakan manfaatnya, insya Allah pahala itu akan terus mengalir kepada para pewakaf dan para donatur.
Kami tidak sedang membangun bangunan semata. Kami sedang berusaha mengubah sejarah sebuah tempat. Dari tempat yang pernah sunyi menjadi tempat yang hidup. Dari tempat yang pernah menjadi lokasi perjudian menjadi tempat sujud. Dari lahan yang tergerus banjir menjadi lahan yang menumbuhkan keberkahan.
Semoga Allah menggerakkan hati kita semua untuk ikut serta dalam perjuangan ini. Sebab mungkin saja, di antara amal-amal yang kita lakukan di dunia, pembangunan Masjid Baiturrahim di Legok Kalongan inilah yang kelak menjadi saksi bahwa kita pernah membantu menegakkan rumah Allah di tempat yang dahulu hampir terlupakan.
Harapan kami setelah Anda meluangkan waktu untuk membaca ini, hati anda dibukaan oleh Allah untuk sadar tergerak bersedekah walau sekemampuanya. Kami yakin anda punya kemampuan Allah-lah yang akan menggerakkan hati anda.
Mari bersama membangun Masjid Baiturrahim. Karena tanpa dukungan dan kepedulian kita semua, masjid ini mungkin tidak akan pernah berdiri. Tetapi dengan pertolongan Allah melalui tangan-tangan para dermawan, insya Allah tempat ini akan berubah menjadi sumber keberkahan bagi banyak generasi yang akan datang. Setidaknya tulisan ini menjadi pengingat dan amal jariyah pikiran kami kepada kaum muslimin.
Wallahua'lam bissawab




Komentar
Posting Komentar