Dakwah di Kota dan Sunyi yang Terlupakan di Pedusunan
Dakwah di Kota dan Sunyi yang Terlupakan di Pedusunan
Semakin lama saya menjalani perjalanan dakwah, semakin saya menyadari bahwa ada jarak yang cukup jauh antara kenyataan di lapangan dengan gambaran yang sering disampaikan dalam banyak ceramah. Bukan karena tausiyah itu salah, tetapi karena realitas dakwah di pedusunan sering kali tidak terlihat oleh mereka yang lebih banyak berada di lingkungan perkotaan.
Dakwah di kota dan dakwah di desa adalah dua dunia yang berbeda. Di perkotaan, seorang mubaligh biasanya datang ke masjid dengan fasilitas yang lebih baik, jamaah yang lebih banyak, dan dukungan ekonomi yang lebih kuat. Tidak sedikit kegiatan dakwah di kota menjadi lahan yang relatif subur, di mana pengajian berjalan rutin dan penghargaan untuk penceramah pun lebih memungkinkan. Saya tidak menyalahkan keadaan itu. Memang begitulah kenyataannya.
Namun ketika kita masuk ke pedusunan yang tradisional dan sunyi, suasananya sangat berbeda. Seorang mubaligh tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga harus membawa kesabaran, ketulusan, dan kesiapan untuk berdakwah dalam keterbatasan. Jalan yang jauh, fasilitas yang sederhana, jamaah yang sedikit, dan kemampuan ekonomi masyarakat yang terbatas menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari.
Yang paling menyentuh justru keadaan masjid-masjid kampung. Masjid di kota sering terlihat megah dan ramai ketika salat Jumat, tetapi tidak sedikit yang terasa sepi ketika salat Subuh. Sebaliknya, masjid-masjid pedusunan yang sederhana justru tetap memiliki jamaah Subuh. Mungkin yang datang hanya beberapa orang, kebanyakan para lansia, tetapi mereka hadir dengan kesetiaan yang luar biasa. Mereka berjalan perlahan menuju masjid, menjaga cahaya Subuh agar tetap hidup di kampungnya.
Ironisnya, kemampuan ekonomi jamaah kampung sangat terbatas. Masjid mereka dibangun sesuai kemampuan masyarakat. Karpet seadanya, pengeras suara sederhana, tempat wudu yang kadang kurang nyaman, dan dana operasional yang sering tidak mencukupi. Mengapa hal ini terjadi? Salah satu kenyataan yang saya lihat adalah karena banyak warga desa yang pada siang hari bekerja di kota. Mereka salat berjamaah di masjid perkotaan, berinfak di sana, dan menjadi bagian dari kehidupan masjid kota. Sementara masjid di kampung mereka tetap bertahan dengan kemampuan jamaah yang tersisa.
Di sinilah saya melihat sebuah ketimpangan yang perlu menjadi renungan bersama. Sejatinya, warga kota tidak sedikit yang berasal dari desa. Mereka adalah penduduk urban yang meninggalkan kampung demi mencari nafkah. Bahkan ketika musim mudik tiba, kita bisa melihat kenyataan yang sangat jelas: infak di banyak masjid perkotaan cenderung menurun, sementara masjid-masjid kampung kembali ramai. Artinya, hubungan antara kota dan desa sebenarnya sangat erat.
Karena itu saya berpikir, sudah seharusnya masjid-masjid perkotaan ikut membantu kemakmuran masjid-masjid pedusunan. Bukan karena masjid kampung meminta belas kasihan, tetapi karena mereka sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga: kehidupan jamaah, salat berjamaah, pendidikan Al-Qur'an, dan semangat keislaman masyarakat desa.
Masjid kota dan masjid kampung seharusnya bukan dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya adalah bagian dari satu tubuh umat. Ketika satu memiliki kelebihan, sudah semestinya kelebihan itu menguatkan yang lain. Bantuan itu bisa berupa fasilitas, pembinaan imam dan guru TPQ, perbaikan bangunan, dukungan kegiatan dakwah, atau program pemberdayaan ekonomi jamaah.
Saya menulis ini bukan untuk membandingkan kota dan desa, apalagi merendahkan salah satunya. Saya hanya ingin menyampaikan kenyataan yang selama ini saya lihat. Di balik sunyinya pedusunan, ada para lansia yang setia memakmurkan masjid. Di balik bangunan yang sederhana, ada perjuangan yang sering tidak terdengar. Dan di balik keterbatasan itu, ada harapan agar masjid-masjid kampung tidak ditinggalkan.
Maka marilah kita melihat masjid bukan hanya dari kemegahan bangunannya, tetapi dari kehidupan jamaahnya. Jika masjid-masjid perkotaan yang memiliki kemampuan lebih mau berbagi dan menguatkan masjid-masjid pedusunan, insya Allah cahaya dakwah akan semakin merata. Sebab kemuliaan sebuah masjid tidak berkurang ketika ia membantu masjid yang lain. Justru di situlah persaudaraan umat menemukan maknanya yang paling nyata.
Mari berdonasi untuk pembangunan masjid di dusun


Komentar
Posting Komentar